Sunday, March 27, 2016

Makan Gethuk Sambil Bermain Angklung di Malaysia, "why not" ?

Tahun 2015 lalu merupakan tahun ajaib bagi saya karena mendapat kesempatan untuk pergi ke luar negeri mengunjungi salah satu negara anggota ASEAN yaitu Malaysia. Saya lolos seleksi program pertukaran pelajar AIMS (ASEAN International Mobility for Student) yang diadakan di kampus saya Institut Pertanian Bogor. AIMS sendiri merupakan program kerjasama antar direktorat pendidikan negara-negara ASEAN dan baru-baru ini Jepang juga terlibat di dalamnya. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) Republik Indonesia berperan dalam mendanai pelajar dari Indonesia selama mengikuti program ini. Melalui program ini, pelajar Indonesia dapat mengasah baik soft skill maupun hard skill mereka sekaligus juga merintis dan membangun jejaring yang lebih luas, mampu berfikir dalam perspektif global/ internasional dan saling pengertian antar budaya yang berbeda. Pada akhirnya diharapkan kualitas pelajar Indonesia dapat meningkat dalam bidang akademik dan non akademik dalam tataran Asia Tenggara.

Universiti Teknologi Mara (UiTM) menjadi kampus tujuan saya di Malaysia. Satu semester di kampus negeri jiran itu memberi saya banyak pengalaman menarik dan tak terlupakan. Selain memperoleh ilmu akademik dari perkuliahan di jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan di kampus, saya juga berkesempatan untuk berpartisipasi pada beberapa event yang ditawarkan oleh kampus seperti mengikuti program pemantapan bahasa melayu di Port Dickson Negeri Sembilan, menjadi representatif negara Brunei Darussalam pada acara pertukaran kebudayaan ASEAN di Trengganu, dan mengunjungi beberapa tempat bersejarah seperti kota Melaka. Semua kegiatan diatas memberi saya kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan penduduk asli maupun dengan  warga dari negara lain. Saya berkesempatan untuk belajar mengenai bahasa, budaya, kuliner dan kebisaan mereka secara langsung.

Tentunya selain mendapatkan pengalaman tersebut, tak lupa juga saya ingin mengenalkan kebudayaan dari negara saya sendiri. Salah satu pengalaman yang menarik adalah berpartisipasi dalam acara karnival pertukaran budaya yang diadakan oleh kampus UiTM. Bersama pelajar Indonesia lainnya, saya berkesempatan mengenalkan beberapa pakaian, makanan dan alat musik tradisional khas Indonesia. Kami mencoba mengenalkan makanan yang mudah dibuat tetapi jarang atau bakan tidak ditemukan Malaysia, mengingat bahwa banyak kemiripan antara makanan di Indonesia dan Malaysia, seperi rendang dan tempe yang dengan mudahnya ditemukan di sini. Salah satu makanan yang kami sajikan adalah jajanan gethuk, makanan khas Indonesia yang mudah ditemukan di Jawa tengah dan Jawa Timur yang terbuat dari singkong. Selain itu kami juga membuat seblak, makanan yang populer di daerah Bandung Jawa Barat yang terbuat dari kerupuk yang direbus dan diberi bumbu pedas. Komentar pengunjung yang mencoba makanan ini bervariasi. Kebiasaan warga Malaysia yang mengkonsumsi masakan dengan tingkat kepedasan yang relatif tidak terlalu pedas (menurut saya), menjadi penyebab terjadinya salah satu pengunjung yang mencicipi seblak mengucurkan air mata karena tidak kuat menahan rasa pedasnya, padahal level pedas yang kami buat tidak terlalu pedas menurut kami. Namun ada pula yang ketagihan dan ingin mencoba lagi karena memang suka pedas.

Seblak pedas makjoss
Seblak pedas seuhah

Tidak kalah serunya, kami juga mengenalkan salah satu alat musik tradisional dari Indonesia yaitu angklung. Pengunjung diajarkan belajar nada dasar dasar angklung hingga memainkan satu lagu sederhana. Beberapa pengunjung ada yang langsung faham cara memainkannya setelah diajarkan, namun ada juga yang hingga berkali kali mencoba tetap belum bisa memainkan dengan benar. 

Belajar bermain angklung

Pengalaman pertukaran pelajar ini merupakan suatu bentuk transfer pendidikan, sosial, dan budaya. Sebagai pemuda Indonesia, kita diharapkan dapat berpartisipasi aktif menjadi bagian dalam masyarakat global. Indonesia adalah negara besar yang mampu mempengaruhi tatanan dunia dan kelak menjadi bangsa yang memiliki daya untuk mengatur arah perubahan dunia. Hal ini dapat terjadi apabila masyarakat Indonesia sadar bahwa dirinya berpengaruh dalam dunia ini dengan cara mengekspos dirinya secara internasional.

cerita selengkapnya mengenai exchange student [klik disini]
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...